Headlines News :
Home » , » Cara melihat hilal 1 Syawwal

Cara melihat hilal 1 Syawwal

Written By *Ahsan on Thursday, September 8, 2011 | 1:58 AM

Berbagai pendapat bermunculan ketika memutuskan munculnya hilal tanggal 1 syawwal. Seperti kejadian tahun 2011 saja, ada yang mengatakan 1 syawwal jatuh pada tanggal 30 September 2011 (mereka adalah golongan Muhammadiyah). Ada juga yang mengatakan 1 syawwal jatuh pada tanggal 31 September 2011 (mereka adalah golongan NU dan pemerintah).

Polemik seperti ini tidak lepas dari perhatian masyarakat, apa sih yang menyebabkan perbedaan jatuhnya tanggal 1 Syawwal?

Sebelumnya, coba perhatikan video ini.
Dari video tersebut bisa Anda perhatikan, misalkan di daerah afrika selatan sudah bisa melihat hilal 1 Syawwal, belum tentu di daerah jawa timur bisa melihat tanggal 1 Syawwal. Oleh karenanya puasa di daerah afrika selatan hanya 29 hari, sedangkan di daerah jawa timur 30 hari.

Intinya, hilal 1 Syawwal bisa jadi berbeda di tiap daerah. Oleh karenya ini satu hal yang perlu di perhatikan.

Hal kedua, berkaitan dengan metode yang digunakan tiap ormas di Indonesia. Ada 3 metode yang bisa dipakai untuk melihat hilal 1 Syawwal.
1. Wujudul hilal
2. Imkanu rukyat
3. Ru'yatul hilal

1. Wujudul Hilal.

Wujudul hilal ini adalah metode yang dipakai Muhammadiyah. K. H. Wardan Diponingrat, beliaulah yang memplopori hisab hakiki wujudul hilal yang kini dipakai oleh Muhammadiyah.

Untuk wujudul hilal sendiri mempunyai 3 syarat:
1. Telah terjadi ijtimak (konjungsi),
2. Ijtimak (konjungsi) itu terjadi sebelum matahari terbenam
3. Pada saat terbenamnya matahari piringan atas Bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud).

Jika ketiga syarat tersebut sudah terpenuhi, maka tanggal 1 Syawwal sudah bisa dipastikan.

2. Imkanu rukyat.

Metode ini hampir mirip dengan yang pertama, hanya saja pada metode ini mensyaratkan hilal minimal 2 derajat. Syarat-syarat metode ini ada 3, yaitu:
1. Tinggi (Irtifa’) Hilal minimal 2º
2. Selisih Azimuth Matahari dan Bulan minimal 3º (jarak horizontal Bulan-Matahari)
3. Umur bulan minimal 8 jam (dihitung sejak  ijtima’ sampai matahari terbenam)

Metode ini dipakai oleh PERSIS (Persatuan Islam).

3. Ru'yatul hilal 


Sedangkan untuk cara yang ketiga ini harus menunggu datangnya maghrib dulu, sehingga bisa memungkinkan untuk melihat hilal secara langsung. Cara yang ketiga ini yang dipakai oleh NU (Nahdlatul Ulama).

Dari pemaparan singkat diatas, tentunya Anda bisa memahami kenapa terjadi perbedaan hari raya di berbagai belahan dunia. Bahkan, di Indonesia sendiri (yang terangkum dalam 1 negara) masih memunculkan perbedaan. Dimulai dari perbedaan metode yang digunakan untuk melihat hilal, dan berakhir dengan perbedaan kepastian tanggal 1 Syawwal (Idul Fitri).

Sumber:
Majelis Tarjih dan Tajdid PP. Muhammadiyah, Pedoman Hisab Muhammadiyah, cetakan kedua, 2009 M.
http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/33732/Warta/PBNU_Tetapkan_Idul_Fitri_31_Agustus.html
http://persis.or.id/?mod=content&cmd=news&berita_id=1365

Artikel Sebelumnya:
Perbedaan Tauhid dan Ilmu Tauhid 
Hukum Merayakan Natal
Fiqih Pada Zaman Rasulullah
Potret Wanita Akhir Zaman 

Keyword:
cara melihat hilal 1 syawwal?, bagaimana cara melihat hilal 1 syawwal?, mengapa terjadi perbedaan penentuan tanggal 1 syawwal, perbedaan 1 syawwal antara Muhammadiyah, NU, PERSIS dan pemerintah, metode penentuan tanggal 1 syawwal yang digunakan Muhammadiyah, NU dan PERSIS, memahami perbedaan penentuan tanggal 1 syawwal.
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Syari'ah Islam Online - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template